Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Biografi Singkat Seicho Matsumoto

Riwayat hidup Seicho Matsumoto akan saya bagi dua bagian yaitu kehidupan sebelum menjadi penulis dan awal kehidupan sebagai penulis.



Kehidupan sebelum menjadi penulis


Seicho Matsumoto lahir di kota Kokurakitaku, Kyushu, tanggal 11 Desember 1909 zaman Meiji tahun 42 dari seorang ayah yang bernama Minetaro Matsumoto dan seorang ibu yang bernama Tani Okada. Setelah ia berusia satu tahun, keluarganya pindah ke kota Shimonoseki, sebuah kota di tepi laut. Ibunya terpaksa menjual kue untuk menghidupi keluarga karena ayahnya yang tidak menyukai pekerjaan kasar. Ayah Seicho lebih menyukai sejarah dan politik Jepang sehingga hal ini selalu menjadi bahan cerita sebelum tidur bagi anaknya.

Pada zaman Taisho tahun ke-5 (1916), bersamaan dengan saat Seicho memasuki sekolah kelas satu, hubungan kedua orangtuanya pun kurang harmonis sehingga ayahnya pun  memutuskan  untuk  pergi  meninggalkan  rumah.  Kondisi  ekonomi  keluarganya


memburuk, ia dan ibunya terpaksa tinggal menumpang bersama tetangga. Setahun kemudian, ayah Seicho kembali pulang ke rumah dan membuka toko makanan. Namun sifat ayahnya yang pemalas membuat bisnisnya berantakan dan Seicho memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.

Hidup dalam lingkungan yang keras bagi anak seusianya, membuat ia merasa tidak tentram. Seicho sangat mengharapkan kehidupan keluarga yang harmornis dengan keadaan ekonomi yang berkecukupan. Latar belakang ini mendorong niatnya untuk bekerja dan membantu perekonomian keluarga. Karena dalam hidup Seicho Matsumoto, keluarga adalah segalanya.

Setamat dari Sekolah Dasar, ayah Seicho membawanya ke sebuah agen pekerjaan. Dengan postur badan yang kurus kecil, ayahnya berharap bahwa anaknya dapat mendapatkan pekerjaan yang baik tanpa harus menguras tenaga. Dari agen pekerjaan tersebut, Seicho Matsumoto diperkenalkan ke Kitagawa Denki, sebuah perusahaan yang memproduksi kipas angin listik dan kompor gas. Ia menerima gaji sebelas yen per bulannya, jumlah yang tidak banyak pada waktu itu, namun cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga sehari-hari.

Dalam kurun waktu 3 tahun, Seicho banyak membaca buku-buku sastra. Salah satu pengarang favoritnya adalah Akutagawa Ryunosuke dan Kikuchi Kan. Ia berkenalan dengan orang-orang yang memiliki hobi yang sama dan menjadi teman-teman baik bagi dirinya. Namun ada beberapa diantaranya yang berminat dengan karya sastra proletariat, sehingga ia juga membaca beberapa majalah seperti Bungei Sensen.

Pada zaman Showa tahun ke-2 (1927) terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan perusahaan Kitagawa Denki ditutup, ia pun kehilangan pekerjaann dan menganggur cukup lama. Namun karena tingkat pendidikan yang rendah, sulit bagi Seicho untuk


mendapatkan pekerjaan yang baik. Untuk menggalau kerisauan hatinya, ia sering ke toko buku untuk membaca buku-buku pariwisata sebagai pelampiasan keinginnannya untuk berjalan-jalan.

Suatu hari, ia berjalan dan melihat iklan lowongan kerja sebagai penggambar di perusahaan percetakan. Dengan bakat menggambarnya, ia akhirnya diterima dengan gaji sepuluh yen per bulan. Ia bekerja keras sehingga banyak mendapatkan ilmu pengetahuan mengenai pembuatan plat. Karena sering lembur, akhirnya Seicho jatuh sakit. Ia hanya dapat beristirahat dirumah karena keterbatasan ekonomi keluarga, ditambah dengan hutang-hutang keluarga yang belum terlunasi.

Pada zaman Showa tahun ke-3 (1928), terjadilah San Ichigo Jiken. Pemerintah mulai menangkap orang-orang yang berhubungan dengan partai komunis. Showa tahun ke-4 (1929), Seicho Matsumoto ditangkap karena dicurigai sebagai anggota komunis, sehubungan dengan majalah Bungei Sensei yang pernah ia baca.

10 hari kemudian, Seicho Matsumoto dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. Oleh karena  khawatir  dan  sayang  terhadap  anak,  ayah  Seicho  membakar  dan  melarang anaknya membaca buku-buku sastra.

Showa tahun ke-8 (1933), untuk pertama kalinya Seicho Matsumoto pergi ke Hataka (Fukuoka) untuk bekerja dan mencari pengalaman di bidang pembuatan plat di perusahaan percetakan terbesar yang bernama Shimai.

Showa  tahun  ke-11  (1936),  Seicho  Matsumoto  menikah  dengan  Neko  Uchida. Seiring dengan keahliannya dibidang percetakan, pendapatannya pun meningkat. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pemilik perusahaan meninggal dunia yang membuatnya kehilangan pekerjaan lagi.


Showa  tahun  ke-12  (1937),  musim  gugur,  Seicho  Matsumoto  mendengar  kabar bahwa Asahi Shinbun akan membuka cabang di kota Ogura, tempat tinggal Seicho. Ini merupakan kesempatan emas baginya untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Ia menulis surat lamaran dengan rasa kesungguhan hati untuk bekerja sehingga ia mendapatkan panggilan  wawancara  di  perusahaan  ini.  Setelah  wawancara,  akhirnya  ia  diterima sebagai pegawai sementara. Gaji yang ia terima dihitung berdasarkan jumlah cetakan yang ia buat. Ia juga menerima pekerjaan lain untuk menambah penghasilannya.

Selama bekerja 20 tahun, Seicho Matsumoto merasa sering tidak dihargai oleh atasan maupun rekan kerjanya. Ia juga terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk membaca buku-buku sastra.

Pada  zaman  Showa  tahun  ke-17  (1942),  Seicho  Matsumoto  menjalankan  wajib militer dan dikirim ke Korea, sebagai prajurit yang bertugas untuk membeli obat-obatan, memasak, dan mencuci pakaian.

Seiring  waktu  perang  yang  berlanjut,  persediaan  bahan  makanan  pun  menjadi menipis. Para tentara kekurangan lauk-pauk sehingga memakan tumbuhan liar, yang mengakibatkan  wabah  penyakit  beri-beri.  Oleh  karena  itu  untuk  menghindari  para tentara memakan tumbuhan-tumbuhan liar beracun tersebut maka Seicho ditugaskan untuk menggambar tumbuhan-tumbuhan liar yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan. Melalui gambar-gambar yang dibuat oleh Seicho, banyak tentara yang terselamatkan, karena dapat membedakan mana  tumbuhan yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Komandan prajurit sangat menghargai bantuan dan usaha Seicho, suatu  penghargaan  yang  tidak  pernah  ia  terima  sewaktu  bekerja  di  Asahi  Shinbun. Setelah Jepang dinyatakan kalah, Seicho kembali ke tanah airnya dan bekerja lagi di Asahi Shinbun.


 Awal Kehidupan Sebagai Penulis



Zaman Showa tahun ke-25 (1951), Majalah penerbitan yang bernama Shukan Asahi mengadakan kontes Hyakumannin no Shosetsu. Juara pertama akan mendapat uang sebesar 300 ribu yen, jumlah yang  cukup besar pada waktu itu. Bagi Seicho Matsumoto ini adalah kesempatan emas untuk mengikuti kontes dan memenangkan hadiah uang yang dapat menghidupi keluarga. Pada bulan Juni, Shukan Asahi  mengumumkan Seicho Matsumoto sebagai pemenang ketiga, dengan cerpen yang bernama Saigousatsu. Ia mendapatkan hadiah sebesar 100 ribu yen.

Di tahun berikutnya cerpen Saigousatsu masuk ke nominasi penghargaan Nouki. Naoki adalah suatu penghargaan sastra yang diberikan kepada penulis novel sastra terbaik. Setelah peristiwa ini ia berharap ada perusahaan penerbit yang datang untuk memintanya menulis naskah, namun harapan ini tidak kunjung datang.

Zaman Showa   tahun ke-27 (1952), ia mendapat rekomendasi dari Taro Kikitaka untuk menulis naskah di majalah sastra Yamada Bungaku. Karya Aruru Ogura Nikkiden miliknya diterbitkan oleh Yamanda Bungaku dan mendapatkan penghargaan Akutagawa.

Seicho Matsumoto memutuskan mengajukan permintaan mutasi kerja ke Tokyo. Selama di Tokyo, ia bekerja keras dan berusaha membawa keluarganya ke kota ini. Zaman Showa tahun ke-29 bulan 7 (1954), akhirnya ia dapat membawa keluarganya pindah  dan  tinggal  di  apartemen.  Ia  memutuskan  untuk  berhenti  bekerja  di  Asahi Shinbun dan fokus menjadi seorang penulis novel detektif.


Menurut Wikipedia (2009), cerita detektif adalah cabang fiksi kriminal yang berpusat atas penyelidikan sebuah kejahatan, umumnya kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang, baik secara amatir atau profesional.

Manji (2000:201) mengatakan, “Suiri shosetsu” adalah salah satu jenis novel. Dalam novel ini, biasanya menceritakan tentang pembunuhan, perampokan, penculikan, penipuan dan lain-lain. Selain itu, di dalam novel ini juga menggambarkan bagaimana sebuah kejahatan terjadi dan akan mengarahkan rangkaian kejadian tersebut ke arah rasional. Inilah yang merupakan titik awal munculnya sebuah jenis aliran novel yang disebut dengan “Misteri” yang disebarluaskan di berbagai media.

Di Jepang muncul bermacam-macam jenis-jenis novel detektif seperti novel hardboiled eggs, novel suspense, novel polisi, novel yang berisikan tentang mata-mata dan lain-lain. Namun salah satu jenis novel detektif Seicho Matsumoto adalah novel Shakaiha. Menurut Manji (2000:201) mengatakan bahwa Shakaiha merupakan salah satu jenis dari Suirishosetsu. Istilah Shakaiha merupakan sebuah istilah yang dipakai untuk menggambarkan latar belakang sebuah kasus yang berhubungan erat dengan sebuah pola hidup masyarakat. Selain menggambarkan sebuah pola hidup masyarakat, juga menggambarkan kasus kejahatan yang terjadi dalam kehidupan nyata atau kasus kejahatan yang bersifat non-fiksi, dan di balik kasus-kasus kejahatan yang diceritakan, novel ini biasanya juga akan memberikan gambaran tentang penyakit masyarakat yang tersembunyi. Novel yang tergolong seperti ini, di Jepang telah ada sejak era tahun 1960an dan berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dalam jangka waktu tersebut telah menjadi diwakili dari novel-novel tergolong Shakaiha adalah novel-novel karya Seicho Matsumoto.


Seusai Perang Dunia II, Seicho Matsumoto menjadi salah satu sastrawan Jepang yang terkenal dan juga sangat digemari oleh kalangan masyarakat Jepang. Dia mendapatkan Akutagawa Prize pada tahun 1952 sebagai penulis terbaik dalam cerita detektif. Nama asli Seicho Matsumoto adalah Kiyoharu Matsumoto, Seicho adalah nama pena yang digunakan hanya di dunia sastra. Dibandingkan dengan sastrawan lainnya, masuknya Seicho Matsumoto ke dunia sastra Jepang bisa dikatakan termasuk terlambat.

Di dalam dunia sastra Jepang terdapat empat kata, yakni Seicho Kakumei  (清張革

命 )  yang  memiliki  makna  revolusi  Seicho.  Makna  dari  kata  ini  adalah  Seicho Matsumoto telah mengubah cerita detektif yang ada di Jepang, sehingga membuat cerita tersebut lepas dari khayalan dan lepas dari cerita yang dianggap terlalu berlebihan. Novel Seicho Matsumoto lebih menggambarkan  kenyataan dan kejadian yang terjadi di sekitar kehidupan sehari-hari. Di dalam novelnya, Seicho Matsumoto lebih mementingkan motif kejahatan dan asal usul mengapa si pelaku harus melakukan kejahatan. Pada umumnya motif kejahatan yang diceritakan berkisar tentang cinta segitiga,  balas  dendam  dan  perebutan  harta  warisan  namun  ditambahkan  beberapa konflik seperti  penjabat yang korupsi, atau organisasi yang melakukan kejahatan. Motif kejahatan yang disesuaikan dengan masalah yang terjadi di kalangan masyarakat dituangkan ke dalam isi novel dan membuat isinya bertambah luas dan mempunyai arti yang lebih dalam lagi.


Biografi Singkat Abu Bakr ash-Shiddiq

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Di bawah ini kami ketengahkan sebuah cuplikan dari sejarah hidup seorang tokoh dan pahlawan umat Islam, seorang shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, agar kita bisa mengambil pelajaran dan ibroh dari perjalanan hidupnya.

Shahabat Rasulullah ini mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah, seperti perang Badar, Uhud dan perang Khandak serta berbagai perang lainnya yang sangat menentukan dalam sejarah kaum muslimin. Beliau tidak pernah berpisah dengan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam baik saat berada dalam negeri atau keluar musafir. Beliau lahir dua tahun enam bulan setelah tahun gajah, beliau telah meminpin para shahabat shalat berjama’ah saat sakitnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum wafatnya beliau. Dia termasuk orang yang paling dicintai oleh Beliau, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menikahi anaknya, dan dia termasuk orang yang pertama masuk Islam dari kalangan kaum lelaki, dan salah seorang tokoh yang diberi kabar gembira memasuki surga serta dia adalah orang terbaik dari golongan umat Islam setelah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Dialah orang yang pernah menemani Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam saat bersembunyi di dalam gua, dan beliau telah mendapat kemuliaan bisa menemani Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam pada peristiwa hijrah dan Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan sebuah ayat yang tetap akan didengungkan sampai hari kiamat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
قال الله تعالى : ﴿ žwÎ) çnrãÝÁZs? ô‰s)sù çnt|ÁtR ª!$# øŒÎ) çmy_t÷zr& tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 š†ÎT$rO Èû÷üoYøO$# øŒÎ) $yJèd †Îû Í‘$tóø9$# ﴾ (التوبة: 40)

 “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua” . (QS. Al-Taubah: 40).

Umar Ibnul Khattab berkata, “Seandainya keimanan Abu Bakr ditimbang dengan keimanan seluruh umat ini maka akan lebih berat keimanan Abu Bakr”. Dia adalah orang yang jujur dari umat ini. Namanya adalah Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Amru Al-Qurasy dan umat ini telah sepakat untuk memberikan gelar padanya dengan kata ash-Shiddiq, sebab dialah orang yang segera membenarkan Nabi Muhammad SAW dan Aisyah pernah berkata tentang bapaknya, “Bapakku orang yang berkulit putih, langsing dan berpipi tipis, sedikit bungkuk dan bermata cekung”.

Banyak hadits Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tentang keutamaan pribadi shahabat ini, dia adalah manusia terbaik di kalangan umat Islam setelah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Di antara hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan shahabat Abu Bakr ash-shiddiq adalah sebuah hadits di dalam kitab shahih Muslim dari riwayat Aisyah menjelang akan wafatnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam: “Pangillah Abu Bakr, bapak dan saudaramu, sehingga aku menulis sebuah pesan, sungguh aku khawatir jika ada orang yang berangan-angan dan seseorang berkata: Aku yang lebih utama dan Allah dan orang-orang yang enggan beriman kecuali kepada Abu Bakr”.

Para ulama berkata, “Di dalam hadits ini dijelaskan bahwa Ashiddiq adalah shahabat yang paling utama secara umum, dan orang yang paling berhak mendapatkan tampuk khilafah dan orang yang paling utama mengimami kaum muslimin.

Dirwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahih keduanya disebutkan pada sebuah riwayat dari Abi Sa’id Al-Khudri RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku percayai untuk menjaga harta dan persahabatannya serta diriku adalah Abu Bakr, seandainya aku boleh memilih kekasih bagi diriku maka aku akan memilih nya sebagai kekasihku, namun persaudaraan dalam Islam dan janganlah engkau meninggalkan di dalam mesjid pintu apapun kecuali pintu Abu Bakr”.

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Abi Hurairah  bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada seorangpun yang telah mengulurkan bantuannya kepada kami kecuali kami telah membalasnya dengan balasan yang cukup kecuali untuk Abu Bakr, sesungguhnya dia memiliki jasa yang akan dibalas oleh Allah pada hari kiamat, dan tidak ada harta seorangpun yang memberikan manfaat bagiku melebihi manfaat harta Abu Bakr, seandainya aku boleh mengangkat seorang kekasih maka aku akan mengangkat Abu Bakr sebagai kekasihku, dan ketahuilah bahwa shahabat kalian (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) ini adalah kekasih Allah”.

Dan setelah Abu Bakr RA masuk Islam dia telah menginfaqkan empat puluh ribu untuk kepentingan shadaqah dan memerdekakan budak.

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari Umar Ibnul Khattab berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersedeqah, saat itu aku memiliki harta maka aku berkata, “Pada hari inilah aku akan mengungguli Abu Bakr, semoga aku mengunggulinya pada pada hari ini”. Maka akupun mengambil setengah hartaku, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?. Aku menjawab: Sejumlah yang aku shedeqahkan”. Lalu Abu Bakr datang dengan membawa seluruh hartanya dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Bakr, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?. Dia menjawab: Aku meninggalkan Allah dan Rasul -Nya. Lalu Umar berkata: Demi Allah aku tidak bisa mengunggulinya dalam kebaikan untuk selamanya”.

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Abi Sa’id RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berada pada tingkatan tertinggi di surga, akan melihat orang yang ada di bawahnya sebagaimana kalian melihat bintang yang terbit di ufuk langit dan sungguh Abu Bakr bersama Umar termasuk penghuni keduanya dan alangkah nikmatnya mereka berdua”.

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari hadits Anas bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Bakr dan Umar, “Dua orang ini adalah pemimpin para penghuni surga yang dewasa baik generasi yang terdahulu atau yang akan datang kecuali para Nabi dan Rasul”.

Beliau telah memegang tampuk khilafah negara Islam setalah wafatnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan masa jabatannya adalah dua tahun tujuh bulan. Dan pada saat bangsa Arab goncang oleh kemunafiqan,  sementara orang-orang Anshor juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu beliau, Aisyah berkata: “Seandainya gunung yang kokoh tertimpa dengan apa yang menimpa Abu Bakr maka dia akan hancur lebur”. Dan Abu Bakr pernah berkata pada saat yang genting tersebut:  Aku akan memerangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat, sebab zakat adalah hak harta, demi Allah seandainya mereka enggan mengeluarkan zakat hewan yang mereka tunaikan pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam maka aku pasti memerangi mereka karena keengganan mereka menunaikan zakat”.

Para ulama berkata, “Allah telah menjaga agama ini dengan dua orang lelaki yaitu Abu Bakr pada saat dia memerangi orang-orang yang keluar dari Islam dan Ahmad bin Hambal pada saat terjadinya fitnah Jahmiyah.

Al-Qur’an dikumpulkan pada masanya, dan Ali bin Abi Thalib berkata; Orang yang paling banyak pahalanya dalam mengumpulkan Al-Qur’an adalah Abu Bakr.

Aisyah RA berkata, “Permulaan sakitnya Abu Bakr adalah pada saat beliau mandi pada hari senin pada hari ketujuh dari jumadil akhir, hari itu cuaca sangat dingin, maka dia sakit selama lima belas hari yang menyebabkan dirinya tidak keluar untuk shalat berjamaah, banyak para shahabat yang menjenguknya pada saat dia sakit,  dan mereka pernah berkata: Bolehkah kami memanggil seorang tabib untuk melihat apa yang engkau derita?. Abu Bakr menjawab; Dia telah melihatku, para shahabat bertanya; Apa yang dia katakan?. Dia berkata: Sesungguhnya semua kehendak -Ku pasti terlaksana seperti apa yang Aku inginkan”. Aisyah berkata: Pada saat rasa sakit yang menimpa bapakku telah kritis aku menyenandungkan bait syair di bawah ini:
Sungguh kekayaan tidak memberikan apapun bagi seseorang
Apabila nafas kematian sudah terdengar dan dada menyempit

Lalu dia membuka wajahnya dan berkata, “Bukan itu wahai anakku akan tetapi bacalah firman Allah:
قال الله تعالى : ﴿ôNuä!%y`ur äotõ3y™ ÏNöqyJø9$# Èd,ptø:$$Î/ ( y7Ï9ºsŒ $tB |MYä. çm÷ZÏB ߉‹ÏtrB ÇÊÒÈ ﴾ (ق: 19)

Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (QS. Qaaf: 19)

Kemudian dia berkata, “Lihatlah pada pakaianku ini dan cucilah dia lalu kafanilah aku dengannya sesungguhnya orang yang masih hidup lebih butuh pada yang baru dari pada orang yang telah mati, dan dia mewasiatkan agar dikuburkan disamping kuburan Rasulullah SAW. Lalu setelah dia wafat maka kepalanya disejajarkan dengan pundak Rasulullah SAW dan menempelkan lahadnya dengan kubur Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga Allah meredhai Abu Bakr dan memberikan ganjaran yang lebih baik dari jasa-jasanya di dalam Islam dan kaum muslimin serta mengumpulkan kita di dalam surga yang mulia bersama para Nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada serta orang-orang yang shaleh dan mereka itulah sebaik-baik teman.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.
 

Serba Ada Blog Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger