Keberlanjutan penggunaan teknologi CRM

Setiap praktek konservasi pertanian saat ini harus ekonomis agar dapat diadopsi secara luas oleh para petani. Data menunjukkan bahwa sistem CRM ekonomis dan memberikan laba bersih sama atau lebih tinggi daripada tanah yg dikerjakan dengan cara lain. Petani dapat melaksanakan praktek ini dengan peralatan mereka apa adanya tanpa atau hanya ada perubahan kecil seperti beralih dari sekop bengkok ke sekop lurus atau garu agar lebih meninggalkan residu tanaman pada permukaan tanah. Selain menerapkan sistem CRM terdapat beberapa pemikiran KTA di kalangan petani AS agar memberikan penghasilan bersih yang lebih tinggi antara lain mengurangi jumlah, kedalaman dan kecepatan operasi tanah yg dikerjakan, serta menggunakan alat tertentu. Namun tidak sampai 3 tahun penggunaan CRM telah meningkat dari 8 juta ha menjadi 14 juta ha di Amerika Serikat (Scherts dan Kemps, 1994).

Studi tentang pengaruh tanaman penutup dan praktek-praktek pengelolaan residu untuk konservasi tanah dan air telah dilakukan pula oleh para ahli di dunia, seperti Khera dan Kukal (1994) di daerah Punjab. Sementara itu sebagaimana diuraikan oleh Prihar dkk, (1979), sejumlah penelitian di daerah-daerah tadah hujan juga memperlihatkan hasil bahwa mulsa jerami sangat baik digunakan dalam KTA untuk tujuan meningkatkan hasil panen (Khera dan Kukal, 1994).

Residu tanaman di banyak negara digunakan sebagai pakan hewan atau bahan bakar untuk memasak. Tuntutan-tuntutan ini menaikkan harga relatifnya (dari US $20 sampai $40 per ton jerami gandum di Asia Selatan). Menghilangkan pengelolaan tanah dapat mengurangi kebutuhan untuk hewan pembajak dan sisa tanaman untuk pakan mereka. Pengalaman di daerah iklim semi arid AS, bahwa meninggalkan residu tanaman pada tanah dapat menjadi investasi yang baik bahkan residu tersebut juga memiliki nilai penting untuk keperluan lain. Penggunaan jangka panjang sistem no-till terkait dengan efisiensi penggunaan air sehingga memungkinkan banyak petani di daerah tersebut bercocok tanam rapeseed, jagung, kedelai, kacang polong, lentil, sorgum, dan bunga matahari yang memerlukan lebih banyak air daripada gandum sebagai tanaman utama. Keuntungan besar yang dihasilkan dari CRM, meningkatkan fleksibilitas pemanfaatan pasar dan rotasi tanaman, agar efektif dalam memecahkan serangga, gulma, penyakit, dan nematoda dari siklus monokultur. Bauer dan Black (1991) menunjukkan pengalaman di dataran tengah bagian utara dan selatan Amerika Serikat, bahwa setiap cm air yang disimpan akan meningkatkan tambahan hasil gandum sekitar 100 kg/ha/cm (Scherts dan Kemps, 1994).

Air memang merupakan faktor utama yang membatasi produksi tanaman. Residu tanaman pada permukaan tanah memberikan peningkatan yang cukup besar dalam produksi dengan meningkatkan efisiensi penggunaan hujan. Sebagian besar hasil panen di tanah Alfisols Semi Arid Tropik terkendala oleh ketersediaan air. Oleh karena itu diperlukan praktek manajemen pengelolaan tanah yang dapat mengurangi kerugian dan meningkatkan penggunaan air hujan yang diperlukan (Rao, dkk., 1994). Penelitian dengan menggunakan model simulasi menyimpulkan bahwa untuk menangani interaksi kompleks dari komponen sistem produksi yang berkelanjutan, sangat memerlukan informasi mengenai perubahan pengelolaan tanah. Selain itu, informasi kuantitatif tentang tanaman, fisik tanah, kimia dan biologi lingkungan juga diperlukan (Gajri dan Prihar, 1994).

Bagi para petani yang berasal dari Plateau Potwar Pakistan dan daerah semiarid lainnya muncul pertanyaan apakah residu tanaman dapat memberikan hasil yang lebih baik jika dijual ke pasar atau ditinggalkan di tanah untuk meningkatkan hasil panen tahun depan? Saat ini sebagian besar Plateau Potwar Pakistan telah tandus dan terkikis, dengan curah hujan hanya 40-60 cm per tahun. Hal tersebut dipicu dengan meningkatnya populasi penduduk yang menggunakan pohon untuk bahan bakar dan konstruksi serta pemanfaatan rumput untuk pakan hewan. Asumsikan bahwa tanpa sisa, maka air yang tersedia di lapangan untuk tanaman sekitar setengah dari 50 cm curah hujan per tahunnya. Dengan curah hujan yang hanya 25 cm, para petani akan mampu menghasilkan sekitar 1.700 kg gandum dan sekitar 2000 kg jerami per ha. Dengan asumsi harga padi-padian dan jerami adalah US$0.11 dan $0,03 per kg, masing-masing, maka penghasilan bruto biji-bijian adalah US $187, ditambah US $60 untuk jerami, sehingga totalnya US $247 per ha. Jika petani Potwar dapat menyimpan 15 cm dari 25 cm hujan akan meningkatkan produksi 1.500 kg per ha menjadi total sekitar 3.200 kg per ha, dengan US $0,11 per ha petani akan menerima penghasilan kotor $352 per ha untuk padi. Jerami yang dihasilkan juga akan meningkat, tetapi jerami akan diperlukan di lapangan untuk konservasi tanah dan air. Petani akan menambahkan biaya untuk pupuk tambahan agar mendapatkan hasil yang lebih tinggi, tetapi biaya ini mungkin akan lebih kecil dari biaya pengangkutan ke pasar dan buruh terlibat, seperti untuk menyiangi rumput hijau sebagai pakan untuk ternak, atau dapat untuk mengendalikan gulma. Selain itu juga digunakan herbisida untuk mengontrol pertumbuhan gulma, sehingga mengurangi atau menghilangkan pengelolaan tanah yang mengubur sisa-sisa tanaman dan mengurangi efektivitas konservasi air.

Roldán, A dkk., (2003) menyimpulkan bahwa praktek-praktek konservasi pengolahan tanah dapat memberikan kontribusi teknologi alternatif untuk pertanian berkelanjutan di DAS Patzcuaro Meksiko, yang dapat disebarkan ke kawasan serupa di tempat lain di Amerika Latin. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa pengolahan tanah yang intensif secara konvensional untuk tanaman jagung (Zea mays L.) telah mengakibatkan degradasi kualitas tanah di Daerah Aliran Sungai Patzcuaro di Meksiko tengah. Kesimpulan tersebut diperoleh atas hasil evaluasi percobaan penanaman jagung dengan tujuh perawatan pengelolaan tanah yang diimplementasikan pada tanah lempung berpasir Andisol yakni pada tanah yg dikerjakan konvensional, pada tanah yg tanpa pengolahan dan pada tanah dengan berbagai persentase cakupan permukaan residu (0, 33, 66 dan 100%), serta pada tanah tanpa pengolahan dengan 33% residu tanaman penutup Vicia entah sp. atau Phaseolus vulgaris L. Hal yang hampir sama  juga dilakukan oleh Sinukaban (2006) di Darmaga. Berbagai alternatif manajemen pengolahan tanah tersebut telah menunjukkan hasil peningkatan unsur hara. Sebagian besar karakteristik kualitas tanah meningkat berbanding lurus dengan input residu. Penggunaan manajemen tanah tanpa pengolahan maupun pengolahan tanah yang minimum bersama-sama dengan sisa tanaman dalam jumlah yang moderat (33%) dan ditanami spesies polongan cepat memperbaiki beberapa karakteristik kualitas tanah.


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Serba Ada Blog Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger