Faktor Karakteristik yang Mempengaruhi Peranserta Masyarakat

Tingkat Pendidikan
Peranserta masyarakat dalam pembangunan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang akan mempengaruhi besar kecilnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sastropoetro (1988), mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat, yaitu:

  1. Pendidikan, kemampuan membaca dan menulis, kemiskinan, kedudukan sosial dan percaya terhadap diri sendiri.
  2. Penginterpretasian yang dangkal terhadap agama.
  3. Kecenderungan untuk menyalah artikan motivasi, tujuan dan kepentingan organisasi penduduk yang biasanya mengarah pada timbulnya persepsi yang salah terhadap keinginan dan motivasi serta organisasi penduduk.
  4. Tersedianya kesempatan kerja yang lebih baik di luar pedesaan.
  5. Tidak terdapatnya kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai program pembangunan.


Slamet (1995) dalam Amba (1998) yang menjelaskan ada 3 (tiga) syarat
yang diperlukan agar masyarakat lebih berperan aktif dalam pembangunan adalah:

  • Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk ikut berpartisipasi. Kemampuan adalah kesanggupan seseorang karena memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam suatu kegiatan.
  • Masyarakat harus memiliki kemauan untuk ikut berpartisipasi. Kemauan adalah aspek emosi dan perasaan terhadap suatu obyek tertentu, yang berupa kecenderungan reaksi psikis yang timbul dari dalam diri manusia yang dapat menimbulkan motivasi untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang berkaitan dengan obyek tersebut.
  • Harus ada kesempatan untuk berpartisipasi. Kesempatan adalah peluang yang tersedia bagi masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi tersebut, mulai dari tahap perencanaan maupun tahap-tahap pelaksanaan dan penilaian.
Tjokroamidjojo (1996) menjelaskan salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam partisipasi masyarakat adalah adalah faktor pendidikan, dengan tingkat pendidikan yang memadai, individu/masyarakat akan dapat memberikan partisipasi yang diharapkan.

Pekerjaan
Mata pencaharian merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam peranserta masyarakat pada pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian Damar (2008), menyimpulkan bahwa: Peranserta masyarakat dalam pengelolaan hutan dipengaruhi oleh mata pencaharian pokok, dominan oleh golongan tua dan umumnya dilakukan secara musiman.

Pendapatan
Hasil nyata yang dapat dilihat dari program pemberdayaan masyarakat desa hutan antara lain meningkatnya pendapatan masyarakat, meningkatnya pengetahuan atas pentingnya kelestarian sumberdaya hutan, meningkatnya ketrampilan berusaha/ usaha produktif, menunjang program pemerintah dalam pengadaan pangan nasional, mensukseskan kebijakan pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, memberikan kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat sekitar hutan (http//www.inoscent.org).

Lama Menetap
Sistem hak milik hutan Indonesia sekarang ini bertentangan dengan kesehatan hutan, serta dengan masa depan bagi pengelolaan kawasan hutan secara berkelanjutan. Dengan mengalahkan hak-hak tradisional, sistem hak-hak serta pengaturan peluang masuk yang didukung secara nasional dan relatif baru ini, telah mengurangi rangsangan masyarakat setempat untuk mengelola kawasan hutan dalam jangka panjang. Hal ini menimbulkan konflik sosial di banyak wilayah. Pada waktu yang sama, besarnya skala dan dalam hal-hal tertentu, terpencilnya wilayah di bawah konsesi kayu telah menyebabkan pemerintah kewalahan mengumpulkan data seperti batas-batas wilayah yang dapat dipercaya (http//www.inoscent.org).

Umur
Karakteristik umur mempengaruhi produktivitas kerja seseorang dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Pembagian angkatan kerja di sini berdasarkan usianya, di mana umur 15 – 57 tahun termasuk angkatan kerja produktif dan umur 58 tahun ke atas adalah angkatan kerja tidak produktif (http//www.damarnet.org). 

Slamet (1995) dalam Amba (1998) menjelaskan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan dan timbulnya kemauan seseorang untuk berpartisipasi dan berperanserta dalam suatu kegiatan adalah: faktor umur, tingkat pendidikan, pengalaman, dan manfaat dari kegiatan tersebut.

Jenis Kelamin
Pengetahuan pria dan wanita menunjukkan keefektifan kegiatan penyebaran informasi tentang peranserta masyarakat yang telah dilakukan. Hasil penelitian Sukmara (2002), menyimpulkan tidak terdapat perbedaan antara pengetahuan pria dengan wanita, hal ini didukung fakta yang menunjukkan 46 persen partisipan dari kegiatan proyek yang formal (pertemuan-pertemuan, presentasi, dan pendidikan lingkungan hidup) tercatat sebagai wanita. Tingkat peranserta wanita yang lebih rendah dari pria dalam kegiatan-kegiatan peranserta menunjukkan adanya perbedaan antara pekerjaan pria dan wanita di masyarakat. Selanjutnya Sukmara (2002) menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan peranserta seperti pertemuan-pertemuan, pembangunan pusat informasi, pencegahan banjir, pembuatan daerah perlindungan laut, pemantauan terumbu karang, dan lain-lain lebih banyak diikuti kaum pria dibandingkan dengan wanita.

Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pria dan wanita mengenai partisipasi dalam penyusunan rencana pengelolaan desa dan pengetahuan apakah rencana pengelolaan tersebut sudah disetujui atau belum. Sedikitnya perbedaan antara pria dan wanita ini mungkin berhubungan dengan kenyataan bahwa penyuluh lapangan adalah wanita sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dan diskusi
informal dalam jumlah yang lebih besar dengan anggota masyarakat wanita. Sebagai tambahan, sepertinya penyebaran informasi dalam rumah tangga dan masyarakat adalah melalui pembicaraan dan diskusi informal. Dalam hal pengetahuan tujuan dan isi peraturan daerah perlindungan laut, terdapat perbedaan yang nyata antara tanggapan pria dan wanita. Karena daerah perlindungan laut belum ditetapkan pada saat survei, informasi tentang hal tersebut mungkin belum tersebar secara penuh dan tidak cukup waktu untuk penyebaran informasi kepada wanita yang tidak berpartisipasi secara formal dalam kegiatan perencanaan daerah perlindungan laut.

Sebagai tambahan, para nelayan lebih tertarik pada daerah perlindungan laut, dan mereka hampir selalu pria.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Serba Ada Blog Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger