Flow control adalah suatu teknik untuk menjamin bahwa sebuah stasiun
pengirim tidak membanjiri stasiun penerima dengan data. Stasiun penerima secara
khas akan menyediakan suatu buffer data dengan panjang tertentu. Ketika data
diterima, dia harus mengerjakan beberapa poses sebelum dia dapat membersihkan
buffer dan mempersiapkan penerimaan data berikutnya.
Bentuk sederhana dari kontrol aliran dikenal sebagai stop and wait,
dia bekerja sebagai berikut. Penerima mengindikasikan bahwa dia siap untuk
menerima data dengan mengirim sebual poll atau menjawab dengan select. Pengirim
kemudian mengirimkan data.
Flow control ini diatur/dikelola oleh Data Link Control (DLC) atau
biasa disebut sebagai Line Protocol sehingga pengiriman maupun penerimaan
ribuan message dapat terjadi dalam kurun waktu sesingkat mungkin. DLC harus
memindahkan data dalam lalu lintas yang efisien. Jalur komunikasi harus
digunakan sedatar mungkin, sehingga tidak ada stasiun yang berada dalam kadaan
idle sementara stasiun yang lain
saturasi dengan lalu lintas yang berkelebihan. Jadi flow control
merupakan bagian yang sangat kritis dari suatu jaringan. Berikut ini ditampilkan time diagram Flow
control saat komunikasi terjadi pada kondisi tanpa error dan ada error.

Gambar 3.5 Diagram waktu flow control saat transmisi
tanpa kesalahan (a) dan saat terjadi kehilangan paket dan terjadi kesalahan (b)
Mekanisme Flow control yang sudah umum digunakan adalah Stop and
Wait dan Sliding window, berikut ini akan dijelaskan kedua mekanisme tersebut.
Stop and wait
Protokol ini memiliki karakteristik dimana sebuah pengirim mengirimkan
sebuah frame dan kemudian menunggu acknowledgment
sebelum memprosesnya lebih lanjut. Mekanisme stop and wait dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar 3.6,
dimana DLC mengizinkan sebuah message untuk ditransmisikan (event 1), pengujian
terhadap terjadinya error dilakukan dengan teknik seperti VCR (Vertical Redundancy Check) atau LRC (Longitudinal Redundancy Check) terjadi
pada even 2 dan pada saat yang tepat sebuah ACK atau NAK dikirimkan kembali
untuk ke stasiun pengirim (event 3). Tidak ada messages lain yang dapat
ditransmisikan selama stasiun penerima mengirimkan kembali sebuah jawaban. Jadi
istilah stop and wait diperoleh dari
proses pengiriman message oleh stasiun pengirim, menghentikan transmisi
berikutnya, dan menunggu jawaban.
Pendekatan stop and wait
adalah sesuai untuk susunan transmisi half
duplex, karena dia menyediakan untuk transmisi data dalam dua arah, tetapi
hanya dalam satu arah setiap saat. Kekurangan yang terbesar adalah disaat jalur
tidak jalan sebagai akibat dari stasiun yang dalam keadaan menunggu, sehingga
kebanyakan DLC stop and wait sekarang
menyediakan lebih dari satu terminal yang on line. Terminal-terminal tetap
beroperasi dalam susunan yang sederhana.
Stasiun pertama atau host sebagai penaggung jawab untuk peletakkan message
diantara terminal-terminal (biasanya melalui sebuah terminal pengontrol yang
berada di depannya) dan akses pengontrolan untuk hubungan komunikasi.
Urutan sederhana ditunjukkan pada gambar 3.6 dan menjadi masalah
yang serius ketika ACK atau NAK hilang dalam jaringan atau dalam jalur. Jika
ACK pada event 3 hilang, setelah habis batas waktunya stasiun master mengirim
ulang message yang sama untuk kedua kalinya. Transmisi yang berkelebihan
mungkin terjadi dan menciptakan sebuah duplikasi record pada tempat kedua dari
file data pengguna. Akibatnya, DLC harus mengadakan suatu cara untuk
mengidentifikasi dan mengurutkan message yang dikirimkan dengan berdasarkan
pada ACK atau NAK sehingga harus dimiliki suatu metoda untuk mengecek duplikat
message.

Gambar 3.6 Stop and wait data link control
Pada gambar 3.7 ditunjukkan bagaimana urutan pendeteksian duplikasi
message bekerja, pada event 1 stasiun pengirim mengirikan sebuah message dengan
urutan 0 pada headernya. Stasiun penerima menjawab dengan sebuah ACK dan sebuah
nomor urutan 0 (event 2). Pengirim menerima ACK, memeriksa nomor urutan 0 di
headernya, mengubah nomor urutan menjadi 1 dan mengirimkan message berikutnya
(event 3).

Gambar 3.7 Stop-and-wait alternating sequence
Stasiun penerima
mendapatkan message dengan ACK 1 di event 4. Akan tetapi message ini diterima dalam keadaan rusak atau
hilang pada jalan. Stasiun pengirim mengenali bahwa message di event 3 tidak
dikenali. Setelah batas waktu terlampau (timeout)
stasiun pengirim mengirim ulang message ini (event 5). Stasiun penerima mencari
sebuah message dengan nomor urutan 0. Dia membuang message, sejak itu dia
adalah sebuah duplikat dari message yang
dikirim pada event 3. Untuk melengkapi pertang-gung-jawaban, stasiun penerima
mengirim ulang ACK 1 (event 6).
Efek delay propagasi dan
kecepatan transmisi
Kita akan menentukan efisiensi maksimum
dari sebuah jalur point-to-point
menggunakan skema stop and wait. Total waktu
yang diperlukan untuk mengirim data adalah :
Td = TI + nTF
dimana TI = waktu untuk menginisiasi urutan = tprop
+ tpoll + tproc
TF = waktu untuk mengirim satu frame
TF = tprop + tframe + tproc
+ tprop + tack + tproc
tprop = waktu propagasi
tframe = waktu pengiriman
tack = waktu balasan
Untuk menyederhanakan persamaan di atas, kita dapat mengabaikan term.
Misalnya, untuk sepanjang urutan frame, TI relatif kecil sehingga
dapat diabaikan. Kita asumsikan bahwa waktu proses antara pengiriman dan
penerimaan diabaikan dan waktu balasan frame adalah sangat kecil, sehingga kita
dapat mengekspresikan TD sebagai berikut:
TD = n(2tprop + t frame)
Dari keseluruhan waktu yang diperlukan hanya n x t frame yang dihabiskan
selama pengiriman data sehingga utilization (U) atau efisiensi jalur diperoleh
:
Sliding window control
Sifat inefisiensi dari stop and wait DLC telah
menghasilkan teknik pengembangan dalam meperlengkapi overlapping antara message
data dan message control yang sesuai. Data dan sinyal kontrol mengalir dari
pengirim ke penerima secara kontinyu, dan beberapa message yang menonjol (pada
jalur atau dalam buffer penerima) pada suatu waktu.
DLC ini sering disebut sliding windows karena
metode yang digunakan sinkron dengan pengiriman nomer urutan pada header dengan
pengenalan yang sesuai. Stasiun transmisi mengurus sebuah jendela pengiriman
yang melukiskan jumlah dari message(dan nomor urutannya) yang diijinkan untuk
dikirim. Stasiun penerima mengurus sebuah jendela penerimaan yang melakukan
fungsi yang saling mengimbangi. Dua tempat menggunakan keadaan jendela
bagaimana banyak message dapat/ menonjol dalam suatu jalur atau pada penerima
sebelum pengirim menghentikan pengiriman dan menunggu jawaban.
Gambar 3.8. Sliding window data link control
Sebagai contoh pada gambar 3.8 suatu penerima dari ACK
dari message 1 mengalir ke Station A untuk menggeser jendela sesuai dengan
urutan nomor. Jika total message 10 harus dalam jendela, Station A dapat
menahan pengiriman message 5,6,7,8,9,0, dan 1. (menahan message-message 2,3 dan
4 dalam kondisi transit). Dia tidak harus mengirim sebuah message menggunakan
urutan 2 sampai dia menerima sebuah ACK untuk 2. Jendela melilitkan secara
melingkar untuk mengumpulkan nomor-nomor set yang sama. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
gambar berikut menampilkan lebih detail mekanisme sliding window dan contoh
transmisi messagenya.


Gambar 3.9 Mekanisme sliding windows beserta contoh
transimisi message
0 komentar:
Posting Komentar